Saturday, 5 July 2014

Struktur Kristal Face-Centered Cubic

Struktur Kristal  Face-Centered Cubic
Struktur Kristal FCC
Gambar 1 : Struktur Kristal Face-Centered Cubic,
(a) hard-sphere, (b) reduced-sphere, dan (c) gabungan sel satuan FCC

Pada FCC struktur kristal yang terbentuk memiliki sel satuan pada geometri kubusnya dengan atom terletak di setiap sudut dan pusat dari setiap muka kubus. Beberapa logam yang memiliki struktur kristal ini adalah tembaga , aluminium , perak , dan emas. Pada gambar 1a menunjukkan model hard - sphere untuk sel satuan FCC , sedangkan pada Gambar 1b pusat atom yang diwakili oleh lingkaran kecil untuk memberikan perspektif yang lebih baik dari posisi atom . Sedangkan pada gambar 1c menunjukkan bagian dari kristal yang terdiri dari banyak sel satuan FCC. Sel satuan FCC mempunyai empat (4) buah atom, yang diperoleh dari jumlah delapan kali seperdelapan-atom pada delapan titik sudutnya ditambah enam kali setengah-atom pada enam sisi kubusnya. Atom-atom atau inti ion bersentuhan satu sama lain sepanjang diagonal sisi. Hubungan panjang sisi kristal FCC, a, dengan jari-jari atomnya, R, ditunjukkan oleh persamaan berikut : a = 2R√ 2

Pada analisis struktur kristal ada dua karakteristik penting yaitu coordination number dan the atomic packing factor (APF). Untuk logam, setiap atom memiliki jumlah yang sama-atom tetangga terdekat atau atom menyentuh, yang merupakan bilangan koordinasi. Tiap atom dalam sel satuan FCC dikelilingi oleh duabelas (12) atom tetangga, hal ini berlaku untuk setiap atom, baik yang terletak pada titk sudut maupun atom dipusat sel satuan (lihat Gambar 1a). Jumah atom tetangga yang mengelilingi setiap atom dalam struktur kristal FCC yang nilainya sama untuk setiap atom disebut dengan bilangan koordinasi (coordination number). Ini dapat dibuktikan pada gambar 1a, atom pada muka depan memiliki empat atom tetangga terdekat di sekitarnya, empat atom yang berada di belakang, dan empat atom yang berada di sel unit berikutnya di depannya, yang tidak ditampilkan. Jadi bilangan koordinasi dari struktur FCC adalah 12. Sedangkan APF adalah jumlah dari volume lingkup semua atom dalam sel satuan ( dengan asumsi atom model hard - sphere ) dibagi dengan sel satuan volume. Untuk struktur FCC , faktor penumpukan atom (APF) adalah 0,74 , yang merupakan jumlah maksimum dari kemungkinan bola (spheres) mempunyai diameter yang sama.

Sumber : 

Materials Science and Engineering an Introduction - W.D. Callister

Geometri Kristal - Koordinat Titik

Koordinat Titik
Posisi setiap titik yang terletak di dalam sel satuan dapat ditentukan sebagai koordinat fraksional dari sel unit dikali panjang tepi (a, b​​, dan c). Sebagai penggambaran dapat dilihat titik P yang berada di dalam sel unit pada Gambar 5.
Koordinat titik P
Gambar 1 : Koordinat titik P

Pada gambar ditunjukkan penentuan posisi P menggunakan koordinat q, r, dan s di mana q adalah panjang fraksional a sepanjang sumbu x; r adalah panjang fraksional b sepanjang sumbu y; s adalah panjang fraksional c sepanjang sumbu z

Sumber : 
Materials Science and Engineering an Introduction - W.D. Callister

Sistem Kristal

Sistem kristal adalah cara untuk mengklasifikasikan bentuk kristal berdasarkan geometri sel unit yaitu berdasarkan letak atom dalam sumbu xyz. Geometri sel unit didefinisikan sebagai analisis terhadap 6 parameter yaitu : panjang tepi a,b,c dan tiga sudut interaksial α,β, γ.
Sebuah sel satuan dengan sumbu koordinat x, y, z
Gambar 1 : Sebuah sel satuan dengan sumbu koordinat x, y, z ,menunjukkan panjang aksial (a, b, dan c) dan sudut interaxial (α,β, γ)

Parameter ini sering dinyatakan sebagai lattice parameter dari struktur kristal. Atas dasar ini ada tujuh kemungkinan kombinasi yang berbeda dari a,b​,c , serta α,β,γ, masing-masing mewakili sistem kristal yang berbeda . Ketujuh kristal sistem ini adalah : kubik, tetragonal, heksagonal, ortorombik, rhombohedral, 2 monoklinik, dan triklinik . Hubungan lattice parameter dan sketsa unit sel dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 :  7 Sistem Kristal
Sistem Kristal

Sumber : 
Materials Science and Engineering an Introduction - W.D. Callister

Tuesday, 25 February 2014

Prinsip Kerja LASER

LASER (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation) adalah alat pembangkit cahaya yang memanfaatkan peristiwa transisi elektron dalam suatu atom yang menghasilkan energi dimana elektron berpindah dari tingkat energi tinggi ke rendah. Energi yang dihasilkan berupa gelombang elektromagnet yang mempunyai panjang gelombang tertentu tergantung perpindahan tingkat energinya. 
Spektrum Gelombang EM akibat transisi elektron
Gambar 1 : Spektrum Gelombang EM akibat transisi elektron
Secara umum suatu divais laser terdiri dari media penguat berkas cahaya (gain medium), sumber energi pemompa (pumping source), dan resonator optik (optical resonator). 
Rangkaian Komponen Laser
Gambar 2 : Rangkaian Komponen Laser Secara Umum

Media penguat adalah suatu bahan yang mempunyai sifat dapat meningkatkan intensitas cahaya dengan cara emisi terstimulasi. Sedangkan resonator optic, secara sederhana terdiri dari susunan cermin yang dipasang berhadapan sehingga berkas cahaya dapat bergerak bolak-balik. Salah satu cermin bersifat agak transparan, sehingga dapat berfungsi sebagai jalur keluar berkas laser (output coupler). Berkas cahaya yang melewati media penguat akan mengalami penguatan daya. Jika daerah sekelilingnya merupakan cermin, maka cahaya akan bergerak bolak-balik dan melewati media penguat berkali-kali. 
Jenis Medium Penguat pada Laser
Gambar 3 : Medium Penguat pada Laser

Dengan demikian cahaya akan mengalami penguatan daya beberapa kali lipat. Setelah mengalami penguatan daya, cahaya dapat keluar melewati cermin yang bersifat agak transparan sebagai berkas laser.

Proses memasukkan energi sebagai syarat untuk terjadinya penguatan daya dinamakan dengan pumping (memompa). Energi yang dipompakan dapat berupa arus listrik atau berkas cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda. Untuk pompa energi dalam bentuk cahaya, dapat digunakan lampu flash atau laser semikonduktor. Selain komponen-komponen utama di atas, suatu perangkat laser biasanya dilengkapi dengan beberapa komponen pendukung untuk menghasilkan berkas laser yang tajam.

Bahan media penguat dapat berupa gas, cairan, padatan, atau plasma. Media penguat menyerap energi yang dipompakan dan mengakibatkan sejumlah elektron tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. 
Skema Laju Energi Laser
Gambar 4 : Skema Laju Energi Laser
Partikel dapat berinteraksi dengan cahaya melalui cara mengabsorpsi atau mengemisikan foton. Emisi cahaya dapat terjadi secara spontan atau dengan cara stimulasi. Ketika jumlah elektron pada suatu tingkat eksitasi melebihi jumlah elektron pada tingkat energi di bawahnya, maka populasi inversi telah terjadi. Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya emisi terstimulasi yang jumlahnya lebih besar daripada yang diabsorpsi. Dengan demikian cahaya mengalami penguatan. Jika media penguat ini ditempatkan di dalam resonator optik, maka penguatan cahaya dapat terjadi berkali-kali dan selanjutnya menghasilkan berkas laser.
Proses Terjadinya Cahaya LASER
Gambar 5 : Proses Terjadinya Cahaya LASER
Kavitas optik merupakan salah satu bentuk dari resonator. Kavitas mengandung berkas koheren yang dilingkupi oleh permukaan bersifat reflektif yang memungkinkan berkas cahaya tersebut bergerak bolak-balik melewati media penguat. 

Jenis-jenis Kavitas Optik
Gambar 6 : Jenis-jenis Kavitas Optik

Cahaya yang bergerak bolak-balik di dalam kavitas dapat mengalami kehilangan daya (loss) yang disebabkan oleh absorpsi atau difraksi. Jika penguatan di dalam media tersebut lebih besar dibandingkan dengan kehilangan daya dalam resonator, maka daya laser akan naik secara eksponensial. Pada setiap kejadian emisi terstimulasi, sejumlah partikel akan berpindah dari tingkat energi tereksitasi ke keadaan dasar, hal ini akan mengurangi kapasitas media penguat. Untuk mengembalikannya ke kondisi terstimulasi, harus dipompa kembali dengan energi tertentu. Besarnya energi yang dipompakan harus mempertimbangkan batas ambang dari media penguat dan kehilangan daya di dalam kavitas. Jika daya yang dipompakan terlalu kecil, maka emisi yang dihasilkan tidak akan cukup untuk mengimbangi kehilangan daya akibat absorpsi di dalam kavitas. Sebaliknya jika energi yang dipompakan terlalu besar, maka akan mempercepat degradasi media penguat sehingga memperpendek usia penggunaannya. Oleh karena itu, diperlukan optimasi batas minium energi yang dipompakan (lasing threshold), sehingga berkas laser yang dihasilkan cukup signifikan dengan umur pemakaian yang panjang.




Monday, 24 February 2014

Struktur Kristal Logam

Konsep
Bahan padat diklasifikasikan berdasarkan keteraturan antar atom. Susunan antar atom yang  berulang atau periodik dengan jarak atom yang sama besar tersebut disebut kristal. Dimana struktur kristal yang dibentuk oleh zat padat juga dapat dipandang sebagai pola tiga dimensi yang berulang, dengan antar atom terikat satu sama lain. Semua logam, sebagian besar bahan keramik, dan polimer tertentu membentuk struktur kristal dalam kondisi pembekuan normal.
Bentuk kristal yang dibentuk oleh zat padat juga mempengaruhi sifat-sifat yang dimiliki oleh padatan kristal itu sendiri. Terdapat banyak jenis dari struktur kristal, struktur kristal dapat membentuk susunan yang relatif simpel sampai kompleks sehingga dapat membentuk kristal padatan yang utuh seperi misalnya keramik dan polimer.

Sel Satuan
Urutan atom dalam padatan kristal menunjukkan bahwa kelompok-kelompok kecil dari atom membentuk pola berulang . Dengan demikian , dalam menggambarkan struktur kristal , perlu untuk membagi struktur menjadi entitas berulang berukuran kecil yang disebut sel satuan. Sel satuan mewakili simetri dari struktur kristal, dimana semua posisi atom dalam kristal dapat diwakili oleh  sel satuan yang terpisahkan jarak sepanjang masing-masing dari tepinya. Jadi, sel satuan adalah unit struktural dasar dari struktur kristal yang menentukan struktur kristal berdasarkan geometri dan posisi atom di dalamnya.

Struktur Kristal Logam
Pada ikatan atom pada bahan logam terdapat pembatasan minimal untuk jumlah dan posisi atom terdekat, hal ini menyebabkan jumlah yang relatif besar pada atom terdekat dan kerapatan atom untuk sebagian struktur kristal metalik. Untuk menganalisa logam, dapat menggunakan model bola pejal untuk struktur kristal yang terbentuk, dimana masing-masing mewakili lingkup inti ion. 

Tabel 1 : Radius Atomik dan Struktur Beberapa Kristal Logam
Radius Atomik dan Struktur Beberapa Kristal Logam

Pada tabel 1 menyajikan jari-jari atom untuk sejumlah logam dan stuktur yang membentuknya. Tiga struktur kristal yang ditemukan untuk sebagian besar logam biasa yaitu face-centered cubic, body-centered cubic, dan hexagonal-close packed.


Sumber : 
Materials Science and Engineering an Introduction, W.D. Callister
http://piyohsiat.blogspot.com/2011/01/struktur-kristal-logam.html

Tuesday, 15 October 2013

Fenomena Petir

Petir terjadi karena adanya perbedaan potensial antara awan dan bumi. Awan yang sebelumnya tidak bermuatan menjadi bermuatan disebabkan oleh pergerakannya yang terus menerus secara teratur, pergerakan tersebut terjadi karena:
- Kondisi udara yang lembab (konsentrasi air yang banyak)
Kelembaban terjadi karena adanya pengaruh sinar matahari yang menyebabkan terjadinya penguapan air di atas permukaan tanah (daerah laut, danau) sehingga udara banyak mengandung uap air. 

- Gerakan angin ke atas
Pergerakan udara ke atas disebabkan karena udara menjadi panas di permukaan bumi akibat sinar matahari sehingga mempunyai kerapatan yang lebih rendah dari udara di atasnya dan udara pun bergerak ke atas.

Selama pergerakan itu dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negative akan berkumpul pada salah satu sisi, dan muatan positif pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (electron) untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses ini, media yang dilalui electron adalah udara, dan pada saat electron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah akan terjadi ledakan suara yang menggelegar. Ledakan suara disebabkan oleh petir yang memanaskan udara sampai 30.000 oC. Udara yang sangat panas itu mengembang dengan cepat dan mengerut ketika dingin. Proses ini menimbulkan gelombang bunyi. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena adanya awan yang bermuatan positif dan negatif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan. Petir jenis ini dapat mengganggu aktifitas penerbangan.

Proses terjadinya petir

Monday, 14 October 2013

Fenomena Gelombang

Definisi umum dari gelombang adalah getaran yang merambat. Hal itu sering kita dengar sejak zaman SD bahkan hingga kuliah kita pun masih sering mendengar hal tersebut. Tidak salah namun kurang tepat. Secara umum ada 2 macam jenis gelombang, yaitu : gelombang mekanik dan gelombang elektromagnetik. Kita tahu perbedaan mendasar dari 2 jenis gelombang ini. Gelombang mekanik adalah gelombang yang dalam perambatannya membutuhkan medium, sedangkan gelombang elektromagnetik (transversal) adalah gelombang yang dalam perambatannya tidak membutuhkan medium. Tapi hal tersebut masih dibedakan lagi berdasarkan arah rambat dan arah getarnya. Gelombang transversal adalah gelombang yang arah rambatnya tegak lurus arah getarnya untuk gelombang yang arah getarnya sejajar dengan arah rambat dinamakan gelombang longitudinal. 

gelombang longitudinal dan transversal

Gelombang adalah perambatan energi, darimana energi ini berasal? Tentu saja dari sebuah gangguan di suatu posisi tertentu. Ketika sebuah gangguan tersebut menghasilkan energi maka energi tersebut akan ditransferkan ke posisi yang lain. Dalam proses transfer tersebut bisa melibatkan medium bisa juga tidak. Ketika energi yang merambat tersebut melalui medium, medium tersebut tidak ikut berpindah. Partikel dalam medium dapat berpindah posisi namun tidak secara permanen. 

efek gelombang

Seperti contoh pada gelombang laut di atas, partikel hanya berpindah posisi saja. Naik turun dan berputar mengelilingi suatu pola tertentu, tidak ada perpindahan materi yang signifikan. Untuk gelombang elektromagnetik, energi merambat tanpa melalui medium, namun bisa saja terjadi melalui medium. Seperti contoh sinar matahari, matahari memancarkan sinar ke luar angkasa dimana kita anggap ruang hampa seluruhnya, energi dari sinar ditransferkan melalui ruang hampa tersebut hingga sampai ke bumi. Untuk mencapai permukaan bumi sinar tentu saja harus melalui atmosfer bumi yang mengandung berbagai macam materi, seperti nitrogen dan oksigen. Namun ketika memasuki atmoser gelombang tersebut dapat mengalami perubahan akibat sifat yang dimilikinya.

sinar matahari menembus atmosfer

Pada gambar di atas sinar yang memasuki atmosfer, yang merupakan cahaya polikromatik akan dihamburkan oleh gas-gas di atmosfer yang menyebabkan langit berwarna biru (Lihat penjelasan mengapa demikian di sini). Fenomena tersebut adalah salah satu fenomena gelombang yang kita temui sehari-hari, masih banyak fenomena lain yang dapat kita temukan, hanya saja kita sering tidak sadar akan hal itu. 

Berikut ini adalah beberapa fenomena gelombang pada kehidupan sehari-hari yang saya kaitkan dengan sifat gelombang.

  • Terjadinya pelangi

terjadinya pelangi
Prinsip terjadinya : Cahaya yang berasal dari matahari adalah cahaya yang bersifat polikromatik yaitu cahaya yang terdiri dari beberapa panjang gelombang. Oleh karenanya cahaya polikromatik ini dapat dipisah menjadi beberapa cahaya monokromatik yakni cahaya yang terdiri dari 1 panjang gelombang saja yang dapat secara jelas dilihat oleh mata seperti merah. Proses yang dapat membuatnya menjadi demikian dapat secara jelas dilihat pada pelangi. Beberapa saat setelah hujan turun yaitu ketika hujan turun rintik-rintik, partikel-partikel air memenuhi atmosfer, dan cahaya matahari yang masuk ke bumi terbiasakan oleh partikel air tersebut, masing-masing panjang gelombang terbiaskan/terbelokkan dengan sudut yang berbeda, hal ini disebabkan karena masing-masing warna yang terbiaskan mempunyai frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda.


  • Selalu adanya gelombang pada laut

terjadinya gelombang di laut
Prinsip terjadinya : Gelombang adalah energi yang merambat, bentuk-bentuk energi dapat berupa macam-macam, seperti halnya dengan tejadinya gelombang pada laut, gelombang terjadi karena adanya energi yang menyertainya. Atomosfer bumi selalu berubah-ubah, perbedaan tekanan antara satu daerah dengan yang lainnya berbeda, hal inilah yang dapat mengakibatkan terjadinya angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke perairan yang menyebakan terjadinya gelombang. Ketika gelombang memasuki zona pantai maka gelombang akan membentuk ombak besar karena perbedaan ketinggian dari dasar laut

  • Perbedaan kondisi di dalam atmosfer bumi dan di luar atmosfer bumi / luar angkasa
bumi dan luar angkasa
Prinsip terjadinya : Ada perbedaan kondisi yang mencolok antara bumi dengan luar angkasa, yakni ada atau tidaknya medium yaitu udara. Dalam batas antara atmosfer dengan permukaan bumi terdapat udara sebagai medium paling dominan sedangkan pada luar angkasa tidak ada medium. Hal ini menyebabkan beberapa fenomena yang berlainan. Pertama jika kita memandang ke atas tampak langit berwarna biru yang disebabkan karena udara mengabsorbsi cahaya dan menghamburkan spektrum warna yang berbeda dengan asalnya yaitu biru sedangkan di luar angkasa lingkungan di sekitarnya berwarna hitam karena tidak adanya udara yang dapat menghamburkan cahaya sehingga cahaya yang terlihat hanya berasal dari sumbernya saja. Kedua apabila kita berbicara di dalam atmosfer bumi maka suara kita akan terdengar karena adanya medium yaitu udara, karena bunyi termasuk gelombang logitudinal yang membutuhkan medium dalam perambatannya sedangkan apabila kita bersuara di luar angkasa/ruang hampa tidak akan terdengar karena tidak adanya medium, jalan satu-satunya untuk berkomunikasi adalah melalui radio yang termasuk gelombang transversal

  • Dapat membedakan suara yang terdengar (spesifik)
ilustrasi orang sedang mendengar
Prinsip terjadinya : Meski suara manusia memiliki pita suara yang bentuk dan jenisnya sama, setiap frekuensi menghasilkan nada yang berbeda-beda. Sebagian suara yang kita dengar tidak hanya 1 frekuensi tertentu, bisa jadi beberapa frekuensi sekaligus. Suara berasal dari getaran. Manusia dapat mendengar suara yang frekuensinya antara 20 Hertz hingga 20.000 Hertz. Artinya, benda bergetar sebanyak 20 hingga 20.000 kali setiap detik. Terlepas dari rentangan frekuensi tersebut, manusia tidak akan mampu mendengar. Contoh sederhananya adalah getaran pada sebuah bambu. Nada pada bambu yang bergetar akan terjadi resonansi, sehingga ada frekuensi-frekuensi lainnya yang ikut bergetar. Resonansi itu akan berbeda untuk setiap benda. Perbedaan tersebut biasanya disebut dengan "warna suara", begitupula dengan manusia.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...